Waktu terus berlalu tinggalkan Masa

Waktu sesuatu ukuran zaman.
Hari-hari yang telah kita lewati adalah umur kita.
Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita.
Waktu menjadi rahasia dari berbagai prestasi cemerlang ,

Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi insan
ketika mampu menatanya dengan cermat nan seksama.

Kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum tergerus.

Masa muda sebagai WAKTU EMAS, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dari tekat yang kuat bukan Sebaliknya

Diusia tua, badan semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.

Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang.
Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak,
Sementara waktu terluang sangat terbatas…

Dengan waktu pula;
berapa banyak lahan yang bisa diolah,
berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan,
berapa ribu orang yang bisa dibantu serta yayasan yang bisa dikembangkan.

Namun betapa banyak pula waktu diabaikan? ..
sudahkah puas dengan sedikit kualitas?
sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya?

Tidaklah Allah berfirman dalam Al’Quran mempergunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, ..
Semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu.
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri.

segeralah melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Karena kita tidak akan pernah mampu menggantikan” Waktu terus berlalu tinggalkan Masa”

Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.

#MuslimSejati pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang.
Maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya.
Kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan.

Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah azza wajjala.
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk waktu akhiratnya adalah orang yang merugi.

Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur.
Terkadang manusia juga tidak memiliki waktu luang.
Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan hidup

Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.

#MuslimSejati hendaknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda kesempatan melakukan amal kebaikan.

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar pernah berkata;
“Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari.
Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari.

Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416)

Ibnu Qoyyim berkata 4 hal ini;
”Merusak hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan makan, berlebihan tidur, dan berlebihan dalam bergaul.” (Al-fawaid hal 262).

Beliau juga berkata: ”Pintu taufiq tertutup bagi seseorang karena melakukan 6 perkara, yaitu ;
(1) Meninggalkan syukur kepada Allah dengan menggunakan karunia bukan pada jalan-Nya,
(2) Gemar terhadap ilmu namun tidak mau mengamalkannya,
(3) Berteman dengan orang sholih tapi tidak mau meneladani mereka,
(4) Menunda-nunda taubat,
(5) Mengejar-ngejar dunia padahal dunia akan meninggalkannya,
(6) Berpaling dari akhirat padahal akhirat akan mendatanginya.”

Imam Hasan Al-bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, dirimu sebenarnya adalah hari-harimu yang kau alami, jika harimu berlalu maka berkuranglah sebagian hidupmu, sungguh aku pernah bertemu dengan suatu kaum, mereka lebih mengutamakan, mencintai dan menghargai waktu melebihi dari apa yang kau lakukan terhadap dinar dan dirham.”

 

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak pernah menyesal atas hari yang berlalu, kecuali ketika matahari terbenam dan usiaku berkurang, tetapi ilmuku tidak bertambah di hari itu.”

#subhanallah #tawakkul #implus_daily #meditation #spiritual #spirituality #spiritualmedicine

A post shared by SPIRITUAL OF MEDICINE (BOOKS) (@spiritual.medicine) on

Al-Kholil bin Ahmad (160H) mengatakan; “Waktu itu ada tiga bagian, waktu yang sudah berlalu darimu dan tak akan kembali, waktu sekarang yang sedang kau alami dan ia juga akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thobaqotul hanaabilah hal.35-36)

Kisah Dawud bin Abi Hindun (139 H) adalah di antara contoh yang mengagumkan. Beliau berkata: “Ketika kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk selalu berdzikir kepada Allah ta’ala hingga tempat tertentu.
Jika telah sampai kuusahakan lagi dariku untuk berdzikir kepada Allah hingga tempat selanjutnya…hingga sampai di rumah.
Tujuannya agar kugunakan waktu dalam umurku.” (Siyar A’lamin Nubala’ VI/378)

Ibnu Rojab Al-hambali berkata:
“Seorang pelajar hendaknya seorang yang cepat dalam berjalan, menulis, membaca ketika makan.”

(Thobaqot Al-hanabilah). Terbiasa cepat dalam berjalan maka akan sehat di waktu tuanya, cepat membaca maka akan menghemat waktu belajarnya, sekaligus lebih banyak mendapatkan ilmu.
Contoh Salaful ummah menggunakan waktu
Di dalam perjalanan para ulama’ terdahulu terdapat banyak contoh yang mencengangkan bagaimana mereka menggunakan umurnya yang mampu mendorong kita agar benar-benar menjaga detik-detik ini.

Abu Bakar Al-Baqilani pernah tidak tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman dari hafalannya.

Kata bijak “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan memotongmu.
Bila engkau tidak menggunakan waktu yang ada, maka engkau akan celaka layaknya seseorang yang terkena sabetan pedang.
Jika kamu tidak menggunakannya dalam kebaikan maka engkau akan dirusak di dalamnya.” (Bahjatus-nufus, Ibnu Abi Jamroh 3/96).

Hilangnya waktu, juga menyebabkan hilangnya umur secara sia-sia. Beberapa hal di antara kesia-siaan itu adalah banyak berkunjung dan berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu.

Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap ilmu?”
Beliau menjawab:
“Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.” (Adabus-Syafi’I wanaqibuh, Ar-Rozi, dinukil dari Ma’aalim fit-thoriqi thlabil ‘ilmi hal.41).

Terutama antara adzan dan iqomah gunakan untuk berdo’a, atau berdzikir, membaca al-Qur’an, mengulang hafalan, muhasabah, muroja’ah

Akhirul kalam, biasakanlah bertanya pada diri sendiri.
Apa yang telah kita lakukan di waktu-waktu sehat dan luang kita?
Apakah digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanfaatan ilmu, untuk ibadah, atau hanya terbuang secara percuma?
Jika hanya kesia-siaan belakan, sepatutnya kita memohon kepada Allah agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengisi usia ini sebaik.

Oleh karena itu …

Dari sang waktulah kita belajar ….
Mana Hal yang di perjuangkan,
Mana Hal yang di pertahankan,
Mana Hal yang di ikhlaskan.
subhanallah

 

Nara Sumber ; http://www.goodreads.com/book/show/265540.Rumi?from_search=true dan  berbagai kitab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *