Select Page
Welcome Ramadan

Welcome Ramadan

Bulan Ramadhan

telah datang Alhamdulillah kita masih bersama- sama menyambutnya.

Apa yang bisa dilakukan dengan

datang nya ramadhan

Mulai lah menyambutnya dengan

bersih diri, bersih hati . So good.

Diantaranya adalah mengubah suasana tempat tinggal kamu menjadi lebih bernuansa Ramadhan.

Selain menjadi penambah semangat kamu beribadah, tatanan baru juga menjadi penyegaran bagi seisi rumah.

Saat ini boleh sobat lihat tips dan beberapa alternatif dekorasi yang sesuai dengan tema bulan suci ini.

Silahkan mixch math kan pernik- pernik yang ada sehingga nuasa indah dan damai menghantar ke Spiritual Ramadhan hadir

SELAMAT BERKREASI

Belajar Ilmu Ikhlas dan berSyukur

Hidup harus dijalani, naik bahkan turun harus dilalui terkadang bertemu semak belukar namun ada yang mulus istilah kerennya lancar saja.

Itulah kehidupan  suka duka, sedih bahagia merupakan pasangan abadi sampai akhir hayat.

Menjalankannya harus penuh keikhlasan dengan bekal ilmunya 
Abadilah tanjakan tadi untuk mencapai bahagia …
 
 

“Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”. (Q.S.2:2)

Bacaan terkait;
 
 
Dalam perjalanan harus punya tekat dan pondasi kokoh  seperti halnya Memaknai ALFABET IMAN
  • A llah ‘azza wa jalla
    B erikan kita hidup
    C uma sesaat
    D i dunia ini…
    E loknya kita MUASABAH
    F ikirkan akan akhir hayat
    G erbang akhirat pun
    H ampir tiba
    I nilah hakikat hidup
    J anji Allah itu pasti
    K alimah syahadah
    L ailaha Illallah
    Muhammadur Rasulullah
    N ak di ucap tak pasti
    O rang muda atau tua
    asti merasakan mati
    Q ualiti Iman jaminan syurga
    R asulullah SAW bersabda :
    S iapa ucap jaminannya syurga
    T api..jika gagal…
    U ntuk mereka adalah neraka
    V isi kita adalah akhirat
    W alaupun dunia didepan kita
    Y ang pasti semua akan tinggal…
    Z alimnya kita jika tak ada Iman dan Amal.

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَخْبَتُوٓا۟ إِلَى
ٰ رَبِّهِمْ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿٢٣﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Allah azza wa jjala, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”
(Q.S.11:23)

 

Muasabah menghantarkan kita taqwa

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَـَٔابٍ ﴿٢٩﴾

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (Q.S.13:29)

 

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿٩٧﴾

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Setelah itu mulailah berjalan dengan Ilmu Ikhlas berpikir positif padaNYA

Membuat semangatmu selalu membara

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka. 

Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah. 

Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu. 

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan. 

Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja. 

Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan. 

Kita pantaskan diri terhadapNYA

Aamiin Allahuma Aamiin

Populer :

 

Nara sumber :

Al Qur’an – http://www.crackapk.com/al-quran-dan-terjemahan-5143.html
Alfabet Iman – http://spiritualmedics.blogspot.co.id/2016/07/alfabet-iman.html
Ilmu Ikhlas – https://plus.google.com/+PUTRINOKA/posts/5CmBWRZMnec

Iman – http://www.dakwatuna.com/

Waktu terus berlalu tinggalkan Masa

Waktu terus berlalu tinggalkan Masa

Waktu sesuatu ukuran zaman.
Hari-hari yang telah kita lewati adalah umur kita.
Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita.
Waktu menjadi rahasia dari berbagai prestasi cemerlang ,

Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi insan
ketika mampu menatanya dengan cermat nan seksama.

Kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum tergerus.

Masa muda sebagai WAKTU EMAS, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dari tekat yang kuat bukan Sebaliknya

Diusia tua, badan semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.

Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang.
Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak,
Sementara waktu terluang sangat terbatas…

Dengan waktu pula;
berapa banyak lahan yang bisa diolah,
berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan,
berapa ribu orang yang bisa dibantu serta yayasan yang bisa dikembangkan.

Namun betapa banyak pula waktu diabaikan? ..
sudahkah puas dengan sedikit kualitas?
sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya?

Tidaklah Allah berfirman dalam Al’Quran mempergunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, ..
Semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu.
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri.

segeralah melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Karena kita tidak akan pernah mampu menggantikan” Waktu terus berlalu tinggalkan Masa”

Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.

#MuslimSejati pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang.
Maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya.
Kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan.

Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah azza wajjala.
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk waktu akhiratnya adalah orang yang merugi.

Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur.
Terkadang manusia juga tidak memiliki waktu luang.
Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan hidup

Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.

#MuslimSejati hendaknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda kesempatan melakukan amal kebaikan.

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar pernah berkata;
“Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari.
Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari.

Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416)

Ibnu Qoyyim berkata 4 hal ini;
”Merusak hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan makan, berlebihan tidur, dan berlebihan dalam bergaul.” (Al-fawaid hal 262).

Beliau juga berkata: ”Pintu taufiq tertutup bagi seseorang karena melakukan 6 perkara, yaitu ;
(1) Meninggalkan syukur kepada Allah dengan menggunakan karunia bukan pada jalan-Nya,
(2) Gemar terhadap ilmu namun tidak mau mengamalkannya,
(3) Berteman dengan orang sholih tapi tidak mau meneladani mereka,
(4) Menunda-nunda taubat,
(5) Mengejar-ngejar dunia padahal dunia akan meninggalkannya,
(6) Berpaling dari akhirat padahal akhirat akan mendatanginya.”

Imam Hasan Al-bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, dirimu sebenarnya adalah hari-harimu yang kau alami, jika harimu berlalu maka berkuranglah sebagian hidupmu, sungguh aku pernah bertemu dengan suatu kaum, mereka lebih mengutamakan, mencintai dan menghargai waktu melebihi dari apa yang kau lakukan terhadap dinar dan dirham.”

 

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak pernah menyesal atas hari yang berlalu, kecuali ketika matahari terbenam dan usiaku berkurang, tetapi ilmuku tidak bertambah di hari itu.”

Al-Kholil bin Ahmad (160H) mengatakan; “Waktu itu ada tiga bagian, waktu yang sudah berlalu darimu dan tak akan kembali, waktu sekarang yang sedang kau alami dan ia juga akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thobaqotul hanaabilah hal.35-36)

Kisah Dawud bin Abi Hindun (139 H) adalah di antara contoh yang mengagumkan. Beliau berkata: “Ketika kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk selalu berdzikir kepada Allah ta’ala hingga tempat tertentu.
Jika telah sampai kuusahakan lagi dariku untuk berdzikir kepada Allah hingga tempat selanjutnya…hingga sampai di rumah.
Tujuannya agar kugunakan waktu dalam umurku.” (Siyar A’lamin Nubala’ VI/378)

Ibnu Rojab Al-hambali berkata:
“Seorang pelajar hendaknya seorang yang cepat dalam berjalan, menulis, membaca ketika makan.”

(Thobaqot Al-hanabilah). Terbiasa cepat dalam berjalan maka akan sehat di waktu tuanya, cepat membaca maka akan menghemat waktu belajarnya, sekaligus lebih banyak mendapatkan ilmu.
Contoh Salaful ummah menggunakan waktu
Di dalam perjalanan para ulama’ terdahulu terdapat banyak contoh yang mencengangkan bagaimana mereka menggunakan umurnya yang mampu mendorong kita agar benar-benar menjaga detik-detik ini.

Abu Bakar Al-Baqilani pernah tidak tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman dari hafalannya.

Kata bijak “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan memotongmu.
Bila engkau tidak menggunakan waktu yang ada, maka engkau akan celaka layaknya seseorang yang terkena sabetan pedang.
Jika kamu tidak menggunakannya dalam kebaikan maka engkau akan dirusak di dalamnya.” (Bahjatus-nufus, Ibnu Abi Jamroh 3/96).

Hilangnya waktu, juga menyebabkan hilangnya umur secara sia-sia. Beberapa hal di antara kesia-siaan itu adalah banyak berkunjung dan berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu.

Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap ilmu?”
Beliau menjawab:
“Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.” (Adabus-Syafi’I wanaqibuh, Ar-Rozi, dinukil dari Ma’aalim fit-thoriqi thlabil ‘ilmi hal.41).

Terutama antara adzan dan iqomah gunakan untuk berdo’a, atau berdzikir, membaca al-Qur’an, mengulang hafalan, muhasabah, muroja’ah

Akhirul kalam, biasakanlah bertanya pada diri sendiri.
Apa yang telah kita lakukan di waktu-waktu sehat dan luang kita?
Apakah digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanfaatan ilmu, untuk ibadah, atau hanya terbuang secara percuma?
Jika hanya kesia-siaan belakan, sepatutnya kita memohon kepada Allah agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengisi usia ini sebaik.

Oleh karena itu …

Dari sang waktulah kita belajar ….
Mana Hal yang di perjuangkan,
Mana Hal yang di pertahankan,
Mana Hal yang di ikhlaskan.
subhanallah

 

Nara Sumber ; http://www.goodreads.com/book/show/265540.Rumi?from_search=true dan  berbagai kitab

20 Mental Pemenang

20 Mental Pemenang

Kempatan merupakan nikmat tersendiri bagi
mental pemenang dalam kesehariannya.
Menurut Imam Syafi’I pemenang itu ia yang mampu menyembunyikan kesusahan.
Sikap yang bermental pemenang kadang
bersikap terbalik . Rupa-
rupanya ini malah menjadi
motivasi sukses bagi Dia..
Selalu berpikir Positif dalam setiap langkah artinya dalam kondisi …
– Sakit, tapi masih bisa
tersenyum.
– Gagal, tapi masih bisa bahagia.
– Bangkrut, tapi masih bisa
bersyukur.
– Miskin, tapi masih mau
sedekah.
Umumnya orang sukses dulu,baru bisa bersyukur…
Mapan dulu, baru mau sedekah…
Ini kan parah lho..
Sekiranya kita mau
bersikap positif, niscaya kita akan lebih lucky alias beruntung.
Di pelatihan SDM, banyak yang tersadarkan dengan kenyataan ini!
Karya fenomenal yakni, The Luck Factor, Profesor Richard Wiseman seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire telah
meneliti 400 orang yang
memiliki karakter yang
beruntung dan tidak beruntung dengan berbagai jenis latar belakang.
Dalam penelitiannya bertahun- tahun ia mengungkap bahwa
keberuntungan bukanlah
kemampuan magis atau hasil dari pengambilan acak namun spiritual mutlak.
Ternyata ada polanya. Apa saja polanya?
Macam-macam. Salah satunya adalah berpikir dan bersikap positif.
Anda termasuk yang mana?
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar : 10]
Jadikan saja tulisan ini sebagai bahan renungan. Semoga hidup kita selalu berlimpah di keberkahan Spiritual
Jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari- cari kesalahan orang lain (QS. 49 : 12)
Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim)