SitusNoka

Belajar Ilmu Ikhlas dan bersyukur merupakan Ilmu Ikhlas dalam Islam harus dimiliki seorang muslim

Hidup harus di jalani, naik bahkan sampai harus dilewati sesekali belukar namun ada yang mulus,

namun kita harus bisa dengan belajar Ilmu Ikhlas dan bersyukur

Itulah hidup suka duka , bahagia merupakan pasangan abadi sampai akhir hayat diri ini

Ilmu Ikhlas

Ilmu Ikhlas adalah

Menilainya harus penuh keikhlasan dengan bekal Iman

Abadilah tanjakan untuk mencapaiNYA

Al Qur’an ini tidak ada keraguan ;

Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS2:2)

Review Android ;

Belajar Alfabet Iman

Dalam perjalanan harus memiliki tekat dan pondasi yang kokoh seperti Memaknai ALFABET IMAN

  • Allah ‘azza wa jalla
    B erikan kita hidup
    C uma sesaat
    D i dunia ini…
    E loknya kita MUASABAH
    F ikirkan akan akhir hayat
    G erbang akhirat pun
    H ampir tiba
    I nilah hakikat hidup
    J anji Allah itu pasti
    K alimah syahadah
    L ailaha Illallah
    Muhammadur Rasulullah
    N ak di ucap tak pasti
    O rang muda atau tua
    asti merasakan mati
    Q ualiti Iman jaminan syurga
    R asulullah SAW bersabda :
    S iapa ucap jaminannya syurga
    T api..jika gagal…
    U ntuk mereka adalah neraka
    V isi kita adalah akhirat
    W alaupun dunia didepan kita
    Y ang pasti semua akan tinggal…
    Z alimnya kita jika tak ada Iman dan Amal.

Ilmu Ikhlas dalam Islam

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَخْبَتُوٓا۟ إِلَى
ٰ رَبِّهِمْ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿٢٣

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Allah azza wa jalla, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”
(Q.S.11:23)

Muasabah menghantarkan kita taqwa

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَـَٔابٍ ﴿٢٩

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (Q.S.13:29)

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿٩٧

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan,

baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,

maka pasti kami akan menerima kehidupan yang baik dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Setelah itu mulailah berjalan dengan Ilmu Ikhlas berpikir positif atas ketentuan padaNya

Bacaan terkait ;

Kajian Ilmu Ikhlas

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding antara usaha dan harapan,

tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.

Ikhlas itu… Ketika amal kita tidak bersambut apresiasi yang sebanding,

serta tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik kita disambut berbagai prasangka,

kita tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu… Ketika waktu sepi dan ramai, ukuran sedikit atau banyak,

menang atau kalah, kita tetap berjalan lurus dan terus melangkah pasti.

Ikhlas itu… ketika kita lebih mempertanyakan

  • Apa Amal dibanding apa posisi kita nanti,
  • Apa peranmu dibanding apa kedudukanmu,
  • Apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuat kita keluar dari barisan dan merusak tatanan yang sudah ada.

Ikhlas itu… ketika posisi kita di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisi kita di bawah tak membuat tak bekerja.

Ikhlas itu… ketika ke khilaf mendorong kita minta maaf, ketika salah mendorong kita berbenah,

ketika ketinggalan mendorong kita mempercepat kecepatan,

serta Kita pantaskan diri terhadapNYA

Hakikat Ilmu Ikhlas

Apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita dan

Adakah tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita pakai untuk mengeceknya.

1. Ikhlaslah saat kita menerima banyak keterbatasan dan kekurangan

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan.

kita merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya.

sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla?

Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar.

Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah,

sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima.

2. Keikhlasan diri kita mengutamakan keridhaan Allah dari keridhaan manusia

Tidak sedikit manusia yang hidup di bawah bayang-bayang orang lain.

Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung.

Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah SWT.

Di sinilah keikhlasan kita harus Memilih keridhaan Allah swt. atau manusia yang menarik diri kita?

Pilihan kita seharusnya seperti pilihan Masyithoh si tukang sisir anak Fir’aun.

Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.

3. Keikhlasan diri kita lebih banyak Amal kebajikan

Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain.

Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon.

Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal.

Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal.

Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

4. Ikhlas saat kita cinta dan marah karena Allah

Adalah ke ikhlas saat kau menyatakan cinta dan benci, beri atau menolak,

ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan kita kepada Allah dan

keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi.

Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya,

mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

5. Keikhlasan hadir saat kita menunggu masa

  • Sepanjang hidup kita adalah ujian. Ketegaran kita untuk menegakkan hukum di muka bumi walau tahu jalannya sangat jauh,
  • sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji.
  • Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu.

Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah.

Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah.

Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala

  • Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya.
  • Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya.
  • Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya.
  • Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!

6. Keikhlasan hadir jika kita takut akan popularitas

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata,

Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan.

Semua orang dapat menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari dahaganya kedudukan.

Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.

Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, lagi riya.

Fudhail bin Iyadh berkata,

Jika kita mampu untuk tidak dikenal oleh banyak orang, maka laksanakanlah.

  • Kita tidak merugi sekiranya tidak terkenal, juga tidak merugi sekiranya tidak disanjung orang
  • Janganlah gundah jika kita menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan menerima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ini lebih utama

Meski demikian, ucapan para pemuka agama ini bukan menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah).

Ucapan itu adalah percakapan agar kita dalam mengarungi kehidupan ini tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat penghargaan manusia.

Nauzubillah minzalik

Apalagi, para nabi dan orang-orang saleh itu adalah orang-orang yang popular dan rendah hati

Yang dilarang adalah meminta nama kita dipopulerkan, meminta jabatan, dan sifat ujub pada kedudukan.

7. Ikhlas saat kita mengambil masalah ditempatkan

Diposisi apapun seorang pemimpin atau prajurit melihat Rasulullah dan melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan ;

  • Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sementara kepala dan tumitnya berdebu.
  • Apabila Anda bertugas menjaga benteng pertahanan, Maka benar-benar menjaganya sesuai ketegasannya
  • Dan jika Anda bertugas sebagai pemberi minuman, Maka benar-benar melaksanakannya sebagai pembagian kerja.

Kisah ini sesuai lukisan perjalanan yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang.

  • Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati dari kisah ini kita belajar Ilmu Ikhlas

8. Ikhlas itu ketika kita menerima saat sahabat memiliki kelebihan

Hanya orang yangmempunyai sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi walau tanpa mengharap balasannya

Beri kesempatan kepada sahabat yang mempunyai kemampuan yang lebih memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya.

Tanpa beban ia mempermudah orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil meyakinkan dirinya

Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan dan

jiwa pemimpin estafetkan Ilmu Ikhlas.

Belajar bersyukur dalam hidup maka

Belajar adalah membuka pintu ilmu apalagi belajar Ilmu Ikhlas

Bersahabatlah dengan siapapun, bangun berbaik sangka setiap hal,
Belajar Ilmu Ikhlas dan bersyukur

Disanalah kunci kebahagiaan dipimpin atau pemimpin merupakan amat yang harus dipertanggung jawabkan sebagai khalifah di muka bumi

Aamiin Allahumma Aamiin

Nara sumber ;

https://spiritualmedicine.website/2016/07/alfabet-iman.html

ShareYuuk